Seperti biasa, setiap sabtu agenda penggerak Women and Environment Studies (WES) Payungi adalah Liqo Literasi. Liqo literasi merupakan wadah bagi para penggerak untuk bertukar ilmu dan menjemput gagasan serta merencanakan gerakan. Sabtu ini, kami sepakat untuk berdiskusi tentang phatological lying.
Sebuah istilah baru yang mencuat pasca kontroversi anak seorang ustaz yang mengaku pernah berkuliah di 4 universitas di luar negeri. Terkait dugaan kebohongan tersebut, anak sang ustaz diserang habis-habisan oleh netizen dan diminta untuk menunjukkan bukti-bukti jika memang benar pernah kuliah di 4 universitas. Sampai yang bersangkutan melakukan klarifikasi, netizen pun masih menghujaninya hujatan karena isi klarifikasi sepertinya tidak menjawab keresahan netizen.
Begitulah resiko jadi publik figur di masa sekarang. Era dimana arus informasi mengalir begitu deras sehingga orang-orang yang memiliki kemampuan di suatu bidang dengan leluasa menyampaikan gagasan, opini bahkan hujatan.
Kami berdiskusi tentang pathological lying berangkat dari prasangka, sepertinya perilaku seperti ini juga terjadi pada orang-orang di sekitar kami. Meskipun, tentu saja kami tidak memiliki bukti yang konkret juga bukan seorang yang ekspert di bidang kesehatan mental yang dapat mengetahui gejala-gejala pathological lying.
Setelah mencari, membaca dan menonton apa saja yang berkaitan dengan pathological lying akhirnya ada beberapa bahasan yang rasanya penting dicatat sebagai refleksi dan upaya preventif supaya fenomena kebohongan terus-menerus ini menjadi-jadi.
Mengutip dari rangkuman salah satu penggerak WES Payungi, Sinta Desna, pathological lying ini ternyata gangguan mental yakni berbohong atas pencapaiannya dan membuat pernyataan palsu tentang dirinya. Tapi, para pelaku ini cenderung merasa tidak sadar atau tidak sengaja bahwa dirinya telah berbohong.
Luckty Giyan. S salah satu peserta Liqo Literasi juga menambahkan, dulu sekitar tahun 2017 seorang bernama Dwi Hartanto juga melakukan kebohongan besar yang menyatakan bahwa dirinya adalah seorang peneliti, membuat proyek pesawat sampai pemerintah juga sempat memberikan penghargaan. Padahal semua itu hanyalah kebohongan, entah apa motifnya.
Kenapa seseorang melakukan kebohongan secara terus menerus? Bagaimana cara menghindari penyakit bohong ini? Atau kita sendiri sering melakukan kebohongan? Bisa jadi pertanyaan yang kadang sulit sekali dijawab.
Kebohongan yang tadinya terbilang sederhana, pada akhirnya akan membawa dampak yang buruk sekali. Bahkan di Film Inventing Anna seorang perempuan berusia 27 tahun, sudah pandai melakukan kejahatan yang luar biasa. Sampai pada persidangan catatan kasusnya berjumlah 11ribu lembar.
Pathological Lying merupakan tingkatan kebohongan yang paling tinggi. Sebelum seseorang mengidap sebagai pathological Lying, dia sudah lama terbiasa berbohong terhadap hal-hal kecil.
Penyebab seseorang terbiasa berbohong juga sangat beragam. Ini seperti spektrum, bahkan sulit dipastikan hal apa yang membuat seseorang melakukan kebohongan secara terus menerus. Bisa jadi karena dia telah menciptakan kisah ideal seoal-olah dia benar-benar ada dal kisah tersebut.
Atau karena ekspektasi yang dilekatkan orang lain kepada dirinya. Bahkan boleh jadi karena rasa insecure yang hadir karena melihat orang lain memiliki hal yang tidak di mereka punya. Kemudian, bisa juga karena inner child yang ada dalam dirinya, sehingga punya keinginan yang sangat besar namun tidak pernah terwujud.
Apapun yang menjadi penyebab orang selalu berbohong, kita harus paham bahwa sekecil apapun kebohongan yang kita lakukan tetap saja dampaknya tidak baik. Jika dilakukan terus menerus akan semakin besar dan semakin berbahaya.
Ekspektasi dan insecure, memang dua virus yang sangat rentan menjangkit kita. Sebagai manusia yang hidup di era sosial media, memang banyak sekali distraksi yang tadinya terlihat sederhana, ternyata punya pengaruh yang besar dalam hidup. Salah satunya perilaku berbohong demi terlihat keren di sosial media.
Saya tertarik dengan kalimat salah satu peserta Liqo Literasi kemarin, Rahma Syafitri, bahwa sebenarnya kita harus pandai pacaran dengan diri sendiri. Hal itu merupakan upaya kita memahami betul apa yang menjadi tujuan dan nilai penting diri yang sedang diperjuangkan. Sehingga waktu yang ada digunakan untuk menyibukkan diri menuju tujuan yang telah dicita-citakan. Tak ada waktu lagi untuk sekadar insecure, mengarang cerita, hanya karena ingin dinotis dan mendapat validasi orang lain.
Semoga kita terhindar dari penyakit pathological lying.

