#liqoliterasi30 berdiskusi tentang perempuan dalam fiksi. Menarik dan menjadi sangat kompleks. Karena karakteristik perempuan dalam cerita fiksi baik novel maupun film sudah tentu tidak lepas dari subjektivitas penulis.
Belum lagi, ketika suatu novel atau film sampai pada pembaca atau penonton. Semakin bertambah pula subjektivitasnya. Karena masing-masing pembaca memiliki background keilmuan maupun nilai masing-masing yang dianut.
Namun, karakter atau penggambaran perempuan dalam fiksi sedikit banyak juga akan mempengaruhi realitas. Baik saat nasib perempuan dalam dunia nyata digambarkan dalam fiksi, maupun karakter khayalan yang menjadi harapan atau bagaimana seorang perempuan hidup.
Perempuan dalam fiksi memiliki corak yang sangat beragam. Hal itu juga berdasarkan kelas sosial maupun ekonominya. Ada pula yang menggambarkan karakter perempuan feminin, sehingga lakonnya seolah ingin memenuhi ekspektasi masyarakat pada zaman tertentu. Seperti pada novel Little woman.
Cerita fiksi juga bisa menjadi jalan perlawanan perempuan atas kedudukannya sebagai manusia dalam memperjuangkan keadilan. Hal itu menjadi satu hal paling menarik dari cerita fiksi dan perempuan. Seperti pada Novel berjudul “Hilda” yang berkisah tentang perlawanan seorang korban perkosaan. Bagaimana seharusnya masyarakat menolak korban yang mengalami kehamilan tak diinginkan. Belum lagi institusi pendidikan terlanjur malu dan memutuskan untuk mengeluarkannya. Sementara pelaku perkosaan bebas berkeliaran dimana-mana.
Melalui cerita fiksi, akhirnya pembaca seperti diajak berempati yang muaranya agar alam bawah sadarnya tidak menolak korban perkosaan lagi.
Kemunculan perempuan atau superhero perempuan dalam film-film Hollywood juga rasanya menambah optimisme gerakan feminis. Meskipun perjalanan agar perempuan tidak dijadikan objek seksual secara terus menerus masih panjang.
Belum lagi jika serial atau film yang mendukung ide-ide kesetaraan gender terus digoreng demi memenuhi target pasar. Karena memang hari ini kepentingan modal masih menjadi prioritas utama daripada patriarki itu sendiri.
Semoga perempuan dalam fiksi menjadikan kita berefleksi dan lebih bijak lagi dalam menyebarkan kemaslahatan seluas-luasnya. Bukan ke-viral-an karakter perempuannya, tapi bagaimana nilai-nilai yang dibawa oleh perempuan dalam fiksi memberikan kemaslahatan seluas-luasnya.
*Notulansi Liqo Literasi Women and Environment Studies Payungi oleh Ririn Erviana (Tim Redaksi)



