Setelah berminggu-minggu serial Layangan Putus tayang dan berhasil mengaduk-aduk emosi penontonnya, kini tibalah pada episode terakhir. Walapun katanya masih akan ada season dua. Seperti biasa, setelah mendapat banyak animo penonton, tim produksi tentu saja tidak ingin rugi dengan melewatkan kesempatan ini.
Layangan putus sedang banyak digandrungi oleh masyarakat dari berbagai lini, mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, anak kuliahan, karyawan, bahkan anak sekolah barangkali ada yang menontonnya. Tentu keputusan untuk menambah episode adalah keputusan yang sangat menguntungkan.
Layangan putus menceritakan kehidupan rumah tangga Aris dan Kinan yang begitu harmonis. Namun, dibalik keharmonisan itu, ternyata ada sebuah kecurangan besar yang dilakukan oleh Aris, suami kinan. Aris berselingkuh dengan seorang perempuan muda, cantik dan cerdas, namanya Lidya.
Pada perjalanan mencurigai suami, menemukan bukti-bukti perselingkuhan suami, dan berusaha mengambil keputusan atas ketidakadilan yang menimpa Kinan, kita akan sama-sama menyaksikan sikap manipulatif yang sering sekali mempengaruhi keputusan perempuan.
Ketika Aris masih denial kalau dia berselingkuh, bahkan ketika Lidya menjelaskan jika Kinan menggunggat perselingkuhan suaminya, maka dampaknya anak mereka akan malu, karena Ayahnya dipenjarakan oleh ibunya. Saat-saat itulah, perlawanan Kinan menghadapi sikap manipulatif mencapai titik kulminasi.
Sebab, perempuan jelas boleh memperjuangkan keadilan untuknya. Sehingga kalimat-kalimat manipulatif itu sudah semestinya dilawan dengan pendirian yang kuat atau bila perlu balik menyerang argumen manipulatif agar lawan tahu bahwa perempuan juga punya kekuatan.
Jika melihat dengan perspektif keadilan hakiki, ada satu hal yang paling menunjukkan bahwa konflik yang terjadi dalam serial Layangan Putus adalah isu ketidakadilan gender. Aris selingkuh atau menjalin hubungan dengan perempuan lain di belakang istrinya, disaat sang istri sedang mengandung anak kedua mereka.
Pada titik itu, seperti jelas menggambarkan bahwa Aris mencari seseorang yang dapat dijadikan tempat untuk meluapkan hawa napsunya. Karena, barangkali, di saat istrinya mengandung ada batasan-batasan tertentu untuk berhubungan seksual. Karakter Aris akhirnya menggambarkan bahwa dia sebagai laki-laki hanya memandang perempuan sebagai objek seksual belaka.
Padahal, mengandung dan melahirkan merupakan bagian pengalaman biologis perempuan yang semestinya di dukung secara penuh. Karena banyaknya rasa curiga terhadap suami, Kinan akhirnya menjalani masa-masa hamil yang kurang sehat. Rasa empati dan kesadaran Aris seorang suami atau laki-laki seperti hilang begitu saja. Pada saat itulah, ketidakadilan gender menimpa Kinan.
Aris sibuk menyusun strategi untuk tidak mau mengalah dan sibuk membenarkan rasa cinta terlarangnya terhadap perempuan lain. Sekalipun tidak pernah memikirkan bagaimana posisi perempuan bahkan menyalahkan perempuan yang hamil karena sensitif dan selalu curiga terhadapnya. Semua itu, menjadi tanda relasi tidak sehat dalam rumah tangga.
Kinan, sebagai tokoh utama perempuan sebenarnya mengalami pasang surut karakter. Mulai dari menunjukkan keteguhan hatinya, tekad keras mengumpulkan bukti dibalik rasa curiga sampai ada dititik menyalahkan diri sendiri karena merasa keputusan yang akan ia ambil semata hanya didasarkan oleh egonya sendiri. Padahal, Aris, sebagai laki-laki yang sudah begitu banyak menyulitkan perempuan itu, belum juga mengucapkan kata maaf sekalipun.
Serial Layangan Putus menurut saya mengandung banyak pelajaran terutama bagi perempuan. Bagaimana seharusnya perempuan berani membela dirinya, teguh atas keputusannya dan berani melawan sikap manipulatif. Meskipun, akhirnya serial ini akan diproduksi menjadi lebih panjang karena hasrat penonton yang sedang menggandrungi tema-tema perselingkuhan. Semoga tetap ada pesan-pesan baik nan positif untuk mendorong terwujudnya relasi setara laki-laki dan perempuan.
Ketika relasi laki-laki dan perempuan setara, keduanya akan berusaha saling menghargai satu sama lain. Saling memahami pengalaman sosial dan biologis satu sama lain. Saling membahagiakan. Sehingga terwujudkan keadilan hakiki.
Layang Putus juga mengajarkan, tidak apa-apa juga memutuskan menjadi janda jika itu terasa lebih ringan dibandingan mempertahankan pernikahan tetapi terasa memanggul banyak beban sendirian. seperti kata kinan menutup kisah layangan putus season satu,
“Kadang kita butuh kekuatan yang jauh lebih besar untuk melepaskan sesuatu ketimbang harus menggenggamnya erat-erat. Tidak apa jika sesekali impian kita diterbangkan oleh angin. Karena satu-satunya yang harus kita genggam erat adalah diri kita sendiri – Kinan”
Lewat serial ini, masyarakat juga semestinya mulai teredukasi mengenai stigma janda di tengah masyarakat. Barangkali perempuan juga tidak pernah sekalipun mendambakan status janda dalam hidupnya. Sehingga janda tidak pantas dilekatkan dengan ‘perempuan nakal’, karena barangkali keputusan menjanda adalah keputusan melepas rasa sakit yang tak tertahankan.
Penulis : Ririn Erviana (Tim Redaksi WES Payungi)






