Senin, Juni 15, 2026
WES
  • Login
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • News
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • News
  • Video
WES
No Result
View All Result
W-E-S
No Result
View All Result
Home Perempuan

NORMALISASI KEKERASAN: PUKUL MUNDUR PERJUANGAN ANTI KEKERASAN

3 Februari 2022
in Perempuan, Wes
Reading Time: 2min read
A A
0
71
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Pagi-pagi sudah diwarnai oleh viralnya ceramah ustadzah OSD. Narasi kisah nyata tentang pemukulan suami pada istri, yang karena kelembutan dan kemuliaan akhlaknya, mampu menyadarkan suami untuk tidak berprilaku kasar. Bahkan tambah sayang.

Well, Tidak ada yang salah dengan kisah ini. Inspiratif dan meneladankan bagaimana sebuah konflik keluarga itu dikelola dengan baik. Sayangnya framing kisah inspiratif ini, terlanjur merefleksikan pandangan dunia ustadzah tentang isu KDRT.

Paling tidak, ada pesan minim empati yang tersampaikan dari framing kisah nyata keluarga di Jeddah. (Jauh amat ngasih contohnya yaks ustadzah ini, masak dari sabang sampai Merauke, dari pulau Miangas sampai Pulau Rote, ga ada kisah inspiratif yang relate dengan pengalaman jamaah pengajian Indonesia)

Pertama, perempuan suka lebay kalau cerita pengalamannya. Apalagi kalau sedang sakit hati, ceritanya suka dilebih-lebihkan. Jujurly, kalimat ini yang pertama kali menghentak saya. Alih-alih memberikan empati pada korban, ustadzah justru memvalidasi stereotyping ‘perempuan emosional dan lebay soal perasaan’. Rasanya aku ingin menyanyi lagu Meggi Z, “Tidak semua perempuan…….” Sambil bilang, untuk berempati nggak harus mengalami lo gaes…

Kedua, membicarakan pengalaman kekerasan, dianggapnya sama dengan membuka aib suami. Penting untuk sama-sama kembali membaca pasal-pasal UU PKDRT. Bahwa empat macam kekerasan yang terjadi dalam lingkup keluarga itu tindak pidana. Mau kekerasan fisik, psikis, seksual, dan atau penelantaran ekonomi, semua adalah extra-ordinary crime. Jangan serta merta dihubungkan dengan persoalan saling menutupi kekurangan.

Kata prof Alimatul Qibtiyah (Komisioner Komnas Perempuan), Kalau nggak mau menceritakan sama orang tua, karena berbagai pertimbangan, it’s fine!! Tapi kamu bisa cerita pada orang yang tepat untuk memberikan bantuan dan layanan.

Ketiga, untuk meluluhkan hati suami pelaku kekerasan, istri harus bersabar agar suami makin cinta dan sayang. It’s a good advice. Tapi, seberapa cepat kesabaran istri bisa mengubah prilaku kekerasan menjadi makin sayang? Who knows? Kawan saya malah bilang secara eksrim, ‘ini mitos”. he he

Saya meyakini bahwa kesabaran adalah obat manjur untuk banyak persoalan. Tapi untuk kasus KDRT, yang banyak terjadi justru apa yang disebut a circle of violence membuat kondisi korban makin buruk, jika siklus kekerasannya tidak segera diputus. Jadi, jangan hanya istri yang harus bersabar agar keluarga tidak bubar, tapi suami juga harus diberi penyadaran, memukul istri itu jahat. It’s not cool, man.

Yeaah ceramah sudah diperdengarkan, yang marah dan geram sudah lalu Lalang mengekspresikan rasanya. Pun yang hanya diam-diam. Perjalanan saya mencatat pengalaman perempuan yang mengalami KDRT berurusan di Pengadilan Agama, membatinkan satu pemahaman, bahwa KDRT itu sangat-sangat komplek, mengancam Kesehatan mental dan keselamatan jiwa.

Simplifikasi KDRT dengan persoalan mengumbar aib, lebay, tidak sabar, dan lemah iman jelas-jelas mengabaikan pengalaman perempuan. Apapun bentuk kekerasan yang dialami, seberapapun intensitas kejadiannya harus divalidasi sebagai pengalaman. Setiap perempuan punya situasi yang berbeda dengan ketahanan fisik dan mental yang tidak sama.

Yuuuk saling dukung untuk saling menguatkan bukan menyudutkan. I love you.

Oleh: Mufliha Wijayati (Pembina WES Payungi)

ShareSendShare
Previous Post

Review Serial Layangan Putus: Ketidakadilan Gender Menimpa Perempuan

Next Post

Alasan Kenapa Harus Nonton Film Kukira Kau Rumah

Related Posts

Pelajaran Penting dari Film The Tinder Swindler

Pelajaran Penting dari Film The Tinder Swindler

by Payungi
3 Maret 2022
0

"Apa yang terjadi padaku seperti di dalam film. Namun di film, selalu ada orang yang jahat." -Cecilie- Film The Tinder...

Review Serial Layangan Putus: Ketidakadilan Gender Menimpa Perempuan

Review Serial Layangan Putus: Ketidakadilan Gender Menimpa Perempuan

by Payungi
20 Januari 2022
0

Setelah berminggu-minggu serial Layangan Putus tayang dan berhasil mengaduk-aduk emosi penontonnya, kini tibalah pada episode terakhir. Walapun katanya masih akan...

Meraup Untung Berujung Buntung: Rendahnya Kepedulian Masyarakat Terhadap Kelestarian Tanah

Meraup Untung Berujung Buntung: Rendahnya Kepedulian Masyarakat Terhadap Kelestarian Tanah

by Payungi
27 Desember 2021
0

Dalam menjalankan sebuah usaha, tentulah setiap orang menginginkan hasil yang terbaik. Hasil ini bisa kita rasakan ketika usaha yang kita...

Ekowisata Hutan Mangrove, Yuk Kunjungi!

Ekowisata Hutan Mangrove, Yuk Kunjungi!

by Payungi
26 Desember 2021
0

Pengelolaan adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan ekowisata adalah salah satu pembangunan tempat untuk...

Kendaraan Bermotor dan Penyakit Berbahaya: Berhubungan, kah?

Kendaraan Bermotor dan Penyakit Berbahaya: Berhubungan, kah?

by Payungi
26 Desember 2021
0

Udara yang bersih dan sehat merupakan kebutuhan utama bagi setiap makhluk hidup baik manusia, hewan, maupun tumbuhan sehingga kelestariannya sangat...

Deterjen: Berbahaya Enggak, Sih?

Deterjen: Berbahaya Enggak, Sih?

by Payungi
26 Desember 2021
0

Air merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam pemenuhan kehidupan makhluk hidup. Air digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti keperluan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

  • Datang Lebih Lama

    Datang Lebih Lama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Idenya Dianggap “Gila”, Penggagas Payungi Metro Diganjar Local Heroes Award oleh Tribun Network

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ‘Payungi’ Kota Metro, Pasar Lokal yang Jadi Wisata Edukasi dan Kampung Kuliner di Hari Minggu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ekowisata Hutan Mangrove, Yuk Kunjungi!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Payungi, Market yang Menghidupkan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TENTANG KAMI

Payungi hadir atas inisiatif warga berdaya yang percaya perubahan bisa dilakukan dengan gotong royong.

Alamat: Jl. Kedondong, Yosomulyo, Kec. Metro Pusat, Kota Metro, Lampung 34111

Kontak: 0812-7330-7316

LOKASI PAYUNGI

  • Bank Sampah
  • Kampung Bahasa
  • Kampung Kopi
  • Pasar Payungi
  • Payungi Media
  • Payungi University
  • Pesantren Wirausaha
  • Pusat Studi Desa

© 2020 Payungi - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • News
  • Video

© 2020 Payungi - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?