Selasa, April 21, 2026
WES
  • Login
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • News
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • News
  • Video
WES
No Result
View All Result
W-E-S
No Result
View All Result
Home Lingkungan

Kiss The Ground: Mitigasi Iklim melalui Penyelamatan Tanah

Penulis : Hifni Septina Carolina

2 April 2022
in Lingkungan
Reading Time: 3min read
A A
0
Kiss The Ground: Mitigasi Iklim melalui Penyelamatan Tanah
52
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Dulu kita bisa memprediksi periode musim penghujan dan musim kemarau. Saat ini kita kepayahan dengan perkiraan cuaca yang berubah-ubah bahkan semakin tidak periodik. Bahkan saat siang hari, terasa sangat terik sekali. Namun, tiba-tiba hujan turun di sore harinya.

Hal tersebut diyakini sebagai salah satu dampak dari perubahan iklim yang drastis. Meskipun sebenarnya penggunaan kata perubahan iklim (climate change) nyatanya belum men-trigger kita untuk bergerak melakukan perubahan.

Gebrakan dari Greta Thunberg, gadis 16 tahun dari Swedia berpidato menggunakan analogi bahwa kita semua sedang berada di dalam rumah yang kebakaran. Pertanyaan selanjutnya, what will we do?

Apakah keluar rumah, apakah berusaha memadamkan api agar tidak cepat menjalar, ataukah hanya diam saja? Rumah kebakaran adalah perumpamaan bumi yang tengah terpanggang akibat panas matahari yang terperangkap di atmosfer karena konsentrasi karbon meningkat.

Greta, sang agigator muda ini berhasil mengumpulkan 1,4 juta siswa untuk turun ke jalan dan menyuarakan aksi agar pembuat kebijakan melakukan sesuatu untuk mencegah krisis iklim atau darurat iklim. Pidato para pemimpin negara kita juga terasa menina-bobokan, seolah bumi baik-baik saja. Namun banjir, longsor bahkan erupsi sering terjadi.

Kita disibukkan mengejar ketertinggalan dari negara lain dengan terus menerus melakukan pembangunan, tanpa memikirkan sumber daya alam. Kita dikelabui sebagai negara agraris dan swasembada pangan, tapi jumlah lahan pertanian maupun petani kian berkurang. Menurut data yang diterbitkan di Global Forest Watch pada 20 Juni 2020, luas kehilangan pohon di Indonesia mencapai 27,7 juta hektar sepanjang 2001-2020.

Selain pembangunan, usaha pertanian juga menyumbang banyak diskoneksi antara manusia-alam yang menyebabkan krisis ekologi. Melalui film Kiss the Ground (2020) kita diajak berpikir dan sadar tentang cara pertanian industrial yang merusak tanah dan siklus air hujan alami.

Cara bertani yang tidak sesuai dengan hukum alam tersebut menyebabkan terjadinya erosi besar dimana-mana. Tanah menjadi tandus, kering dan kehilangan unsur air serta unsur karbon terlepas ke atmosfer. Peristiwa ini disebut dengan desertifikasi.

Awal kerusakan dari usaha pertanian adalah saat pencanangan Revolusi Hijau. Ketika lahan pertanian di seluruh dunia mengunakan bahan pestisida juga pupuk kimia untuk meningkatkan produksi pertanian.

Dampak terburuknya, kehidupan mikroba baik dalam tanah musnah, unsur kimia pestisida tersebut juga terkandung dalam sayur dan buah yang kita makan. Saat tanah kehilangan mikroorganisme, tanah menjadi tidak subur dan kemampuan menyerap CO2 juga berkurang. Menurut Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), Level CO2 di atmosfer kini sudah melebihi ambang batas yakni mencapai 419 ppm pada Mei 2021.

Para ilmuwan muslim berpendapat bahwa darurat iklim yang sedang terjadi saat ini adalah bentuk kegagalan manusia dalam mempertahankan keseimbangan (mizan) dan ukuran atau standar ideal bumi yang memiliki atmosfer. Darurat iklim merupakan salah satu bentuk kerusakan yang diakibatkan oleh manusia (QS 55:7-10).

Fitrah bumi sebagai ciptaan Allah SWT tentu memiliki kapasitas dan daya dukung yang terbatas. Sedangkan manusia dapat menyebabkan kerusakan atau bahkan mempercepat laju kerusakan ekosistem (bumi) jika tidak segera berbenah melakukan aksi perbaikan ekosistem.

Problem tersebut juga menjadi salah satu agenda Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang memfokuskan pada penyelamatan lingkungan/alam. KUPI memberikan rekomendasi tentang peran ulama perempuan dalam menyelesaikan ketimpangan sosial dan kerusakan alam. Negara juga seharusnya hadir dan berperan dalam menghentikan segala praktik eksploitasi sumber daya alam, sekalipun atas nama pembangunan. Karena tindakan yang merusak dan mengganggu ekosistem secara tidak langsung juga mengancam kelangsungan hidup manusia.

Berdasarkan film Kiss The Ground, salah satu cara mencegah darurat iklim yaitu dengan melakukan agroforesty, dimana kita mengembalikan fungsi ekosistem, tumbuhan, hewan dan mikroorganisme dapat saling berinteraksi. Dalam agroforesty, kita memanfaatkan lahan tani untuk menanam pepohonan sehingga terciptalah keanekaragaman tanaman dalam suatu lahan.

Selain itu, juga melindungi tanah dari erosi, mengurangi kebutuhan pupuk karena zat hara tersuplai dari daur-ulang sisa tanaman serta mengurangi risiko kegagalan panen. Kalau kita mau menyelamatkan bumi, maka kita bisa memulai dengan menyelamatkan tanah. Karena tanah yang subur dan juga sehat, berdampak pada tumbuhan yang sehat, hewan yang sehat, manusia yang sehat serta iklim juga sehat.

Tags: Climate ChangesMitigasi IklimPerubahan Iklim
ShareSendShare
Previous Post

Phatological Lying

Related Posts

Meraup Untung Berujung Buntung: Rendahnya Kepedulian Masyarakat Terhadap Kelestarian Tanah

Meraup Untung Berujung Buntung: Rendahnya Kepedulian Masyarakat Terhadap Kelestarian Tanah

by Payungi
27 Desember 2021
0

Dalam menjalankan sebuah usaha, tentulah setiap orang menginginkan hasil yang terbaik. Hasil ini bisa kita rasakan ketika usaha yang kita...

Ekowisata Hutan Mangrove, Yuk Kunjungi!

Ekowisata Hutan Mangrove, Yuk Kunjungi!

by Payungi
26 Desember 2021
0

Pengelolaan adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan ekowisata adalah salah satu pembangunan tempat untuk...

Kendaraan Bermotor dan Penyakit Berbahaya: Berhubungan, kah?

Kendaraan Bermotor dan Penyakit Berbahaya: Berhubungan, kah?

by Payungi
26 Desember 2021
0

Udara yang bersih dan sehat merupakan kebutuhan utama bagi setiap makhluk hidup baik manusia, hewan, maupun tumbuhan sehingga kelestariannya sangat...

Deterjen: Berbahaya Enggak, Sih?

Deterjen: Berbahaya Enggak, Sih?

by Payungi
26 Desember 2021
0

Air merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam pemenuhan kehidupan makhluk hidup. Air digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti keperluan...

Green Ramadhan

Green Ramadhan

by Payungi
19 April 2021
0

Liqo Literasi #7 yang berlangsung pada Sabtu, 17 April 2021 membahas tentang Green Ramadhan. Ternyata sampah selama bulan Ramadhan pada...

Ecofeminism

Ecofeminism

by Payungi
5 April 2021
0

By: Adilla Safira Putri (Alumni SPP Vol 1) "Ecofeminisme: Menyoal Perempuan dan Alam". Ecofeminisme suatu faham bagaimana keterkaitan erat antara...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

  • Datang Lebih Lama

    Datang Lebih Lama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Idenya Dianggap “Gila”, Penggagas Payungi Metro Diganjar Local Heroes Award oleh Tribun Network

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ‘Payungi’ Kota Metro, Pasar Lokal yang Jadi Wisata Edukasi dan Kampung Kuliner di Hari Minggu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Payungi, Market yang Menghidupkan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ekowisata Hutan Mangrove, Yuk Kunjungi!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TENTANG KAMI

Payungi hadir atas inisiatif warga berdaya yang percaya perubahan bisa dilakukan dengan gotong royong.

Alamat: Jl. Kedondong, Yosomulyo, Kec. Metro Pusat, Kota Metro, Lampung 34111

Kontak: 0812-7330-7316

LOKASI PAYUNGI

  • Bank Sampah
  • Kampung Bahasa
  • Kampung Kopi
  • Pasar Payungi
  • Payungi Media
  • Payungi University
  • Pesantren Wirausaha
  • Pusat Studi Desa

© 2020 Payungi - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Gerakan
    • Pasar Payungi
    • Pusat Studi Desa
    • Pesantren Wirausaha
    • WES
    • Payungi University
    • Bank Sampah
    • Kampung Bahasa
    • Payungi Media
    • Kampung Kopi
  • Gagasan
  • News
  • Video

© 2020 Payungi - All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?