Dulu kita bisa memprediksi periode musim penghujan dan musim kemarau. Saat ini kita kepayahan dengan perkiraan cuaca yang berubah-ubah bahkan semakin tidak periodik. Bahkan saat siang hari, terasa sangat terik sekali. Namun, tiba-tiba hujan turun di sore harinya.
Hal tersebut diyakini sebagai salah satu dampak dari perubahan iklim yang drastis. Meskipun sebenarnya penggunaan kata perubahan iklim (climate change) nyatanya belum men-trigger kita untuk bergerak melakukan perubahan.
Gebrakan dari Greta Thunberg, gadis 16 tahun dari Swedia berpidato menggunakan analogi bahwa kita semua sedang berada di dalam rumah yang kebakaran. Pertanyaan selanjutnya, what will we do?
Apakah keluar rumah, apakah berusaha memadamkan api agar tidak cepat menjalar, ataukah hanya diam saja? Rumah kebakaran adalah perumpamaan bumi yang tengah terpanggang akibat panas matahari yang terperangkap di atmosfer karena konsentrasi karbon meningkat.
Greta, sang agigator muda ini berhasil mengumpulkan 1,4 juta siswa untuk turun ke jalan dan menyuarakan aksi agar pembuat kebijakan melakukan sesuatu untuk mencegah krisis iklim atau darurat iklim. Pidato para pemimpin negara kita juga terasa menina-bobokan, seolah bumi baik-baik saja. Namun banjir, longsor bahkan erupsi sering terjadi.
Kita disibukkan mengejar ketertinggalan dari negara lain dengan terus menerus melakukan pembangunan, tanpa memikirkan sumber daya alam. Kita dikelabui sebagai negara agraris dan swasembada pangan, tapi jumlah lahan pertanian maupun petani kian berkurang. Menurut data yang diterbitkan di Global Forest Watch pada 20 Juni 2020, luas kehilangan pohon di Indonesia mencapai 27,7 juta hektar sepanjang 2001-2020.
Selain pembangunan, usaha pertanian juga menyumbang banyak diskoneksi antara manusia-alam yang menyebabkan krisis ekologi. Melalui film Kiss the Ground (2020) kita diajak berpikir dan sadar tentang cara pertanian industrial yang merusak tanah dan siklus air hujan alami.
Cara bertani yang tidak sesuai dengan hukum alam tersebut menyebabkan terjadinya erosi besar dimana-mana. Tanah menjadi tandus, kering dan kehilangan unsur air serta unsur karbon terlepas ke atmosfer. Peristiwa ini disebut dengan desertifikasi.
Awal kerusakan dari usaha pertanian adalah saat pencanangan Revolusi Hijau. Ketika lahan pertanian di seluruh dunia mengunakan bahan pestisida juga pupuk kimia untuk meningkatkan produksi pertanian.
Dampak terburuknya, kehidupan mikroba baik dalam tanah musnah, unsur kimia pestisida tersebut juga terkandung dalam sayur dan buah yang kita makan. Saat tanah kehilangan mikroorganisme, tanah menjadi tidak subur dan kemampuan menyerap CO2 juga berkurang. Menurut Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), Level CO2 di atmosfer kini sudah melebihi ambang batas yakni mencapai 419 ppm pada Mei 2021.
Para ilmuwan muslim berpendapat bahwa darurat iklim yang sedang terjadi saat ini adalah bentuk kegagalan manusia dalam mempertahankan keseimbangan (mizan) dan ukuran atau standar ideal bumi yang memiliki atmosfer. Darurat iklim merupakan salah satu bentuk kerusakan yang diakibatkan oleh manusia (QS 55:7-10).
Fitrah bumi sebagai ciptaan Allah SWT tentu memiliki kapasitas dan daya dukung yang terbatas. Sedangkan manusia dapat menyebabkan kerusakan atau bahkan mempercepat laju kerusakan ekosistem (bumi) jika tidak segera berbenah melakukan aksi perbaikan ekosistem.
Problem tersebut juga menjadi salah satu agenda Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang memfokuskan pada penyelamatan lingkungan/alam. KUPI memberikan rekomendasi tentang peran ulama perempuan dalam menyelesaikan ketimpangan sosial dan kerusakan alam. Negara juga seharusnya hadir dan berperan dalam menghentikan segala praktik eksploitasi sumber daya alam, sekalipun atas nama pembangunan. Karena tindakan yang merusak dan mengganggu ekosistem secara tidak langsung juga mengancam kelangsungan hidup manusia.
Berdasarkan film Kiss The Ground, salah satu cara mencegah darurat iklim yaitu dengan melakukan agroforesty, dimana kita mengembalikan fungsi ekosistem, tumbuhan, hewan dan mikroorganisme dapat saling berinteraksi. Dalam agroforesty, kita memanfaatkan lahan tani untuk menanam pepohonan sehingga terciptalah keanekaragaman tanaman dalam suatu lahan.
Selain itu, juga melindungi tanah dari erosi, mengurangi kebutuhan pupuk karena zat hara tersuplai dari daur-ulang sisa tanaman serta mengurangi risiko kegagalan panen. Kalau kita mau menyelamatkan bumi, maka kita bisa memulai dengan menyelamatkan tanah. Karena tanah yang subur dan juga sehat, berdampak pada tumbuhan yang sehat, hewan yang sehat, manusia yang sehat serta iklim juga sehat.







