By Lathifah T (Alumni SPP Vol 1)
Kebiasaan-kebiasaan yang terjadi kerap kali menjadi budaya yang berkembang di masyarakat. Perempuan sering kali mendapat komentar dan diskriminasi di lingkungan masyarakat. Mereka tidak bersalah, namun keadaan dan lingkungan yang membentuk suatu sistem yang seperti menyalahkan perempuan.
Perempuan sering dinomor duakan akan hak yang seharusnya mereka dapatkan. Kita tidak bisa memukul rata semua orang dengan kemampuan yang sama. Tolak ukur seseorang bukan karena dia laki-laki atau perempuan, tapi karena kemampuan dan potensi yang mereka miliki.
Seperti halnya yang sering terjadi, tidak sedikit masyarakat memandang perempuan hanya bisa macak, manak, hanya pantas tinggal di rumah, tanpa repot-repot bekerja, seolah perempuan tidak pantas tumbuh dan berkembang.
Belum lagi pandangan lawan jenis yang sering kali menjadikan perempuan sebagai objek, sampai mengganggu kesehatan mental para perempuan. Perlakuan seperti inilah yang lagi lagi menjadikan posisi perempuan seperti dibawah laki-laki yang seakan-akan tidak berdaya untuk melakukan seuatu.
Kebiasaan-kebiasaan seperti ini yang membentuk budaya patriarki yang merugikan salah satu pihak. Mengubah budaya yang melekat memang tidaklah mudah, namun apakah budaya-budaya itu dapat mensejahterakan kaum perempuan? Nyatanya tidak. Sebagian mereka seperti terkekang untuk melakukan sesuatu, dinilai tidak pantas akan memutuskan keputusan.
Seharusnya budaya dapat menjadi perantara untuk mencapai kesejahtetaan bersama. Bukan hanya satu dua orang saja. Perempuan juga makhluk sosial yang berhak setara.







