By: Fidara (alumni SPP vol 1)
Pada suatu siang yang terik, aku sedang menunggu salah satu sahabatku yang berprofesi sebagai model di suatu kafe. Ketika dia datang dengan wajah yang terlihat seperti menahan tangis aku seketika bertanya apa yang menyebabkan hal itu. Namun jawaban dia malah membuat aku seketika melongo.
“Fid, tadi aku di olok – olok sama Madam Erika (bukan nama sebenarnya). Masa katanya warna lip cream-ku merah banget. Terus make up-ku kayak badut. Aku udah diet karbo loh padahal kok kata beliau aku masih di bilang chubby, ya? Katanya bulu mataku juga kurang lebat, apa aku eyelash extension aja ya?”
Dari kejadian itu aku menyadari satu hal yang baru. Misoginis juga ada yang perempuan. Dalam istilah disebut internalized misogyny. Pengertian mudahnya yaitu ketika kebencian terhadap perempuan tanpa disadari menjadi bagian dari cara pandang seseorang. Biasanya, seorang perempuan dengan mudahnya merendahkan perempuan lainnya, yang menurutnya tidak sama dengan standar yang ia yakini.
Yup, tak hanya laki-laki, misogini juga bisa diidap oleh perempuan. Karena ini cenderung tak disadari, maka internalized misogyny lebih kompleks dari seksisme yang terkesan terang-terangan.
Sebagai contoh, kita hidup dalam masyarakat yang suka sekali mengatur dan menentukan keharusan – keharusan yang ada pada diri perempuan dan laki-laki. Semisal, urusan make up seperti kasus sahabatku diatas. Katanya, perempuan harus mahir mengaplikasikan make up, karena ia dituntut menjadi cantik sesuai standar masyarakat. Perempuan yang gagal memenuhi ‘standar’ sering kali dicemooh, bahkan oleh perempuan sendiri.
Akan tetapi, tak sedikit juga perempuan yang punya standar kecantikan dengan make up natural atau no make up look yang menganggap perempuan lain yang memakai make up tebal sebagai perempuan penggoda, perempuan nakal, atau perempuan dengan konotasi buruk lainnya. Anggapan tersebut merupakan salah satu contoh menginternalisasikan misogini, melekatkan perempuan dengan stereotip tertentu. Padahal, mau tipis, tebal, atau tidak pakai make up sekalipun, itu hak setiap perempuan.
Beauty standart is sucks. Really.






