By: Zahwa Eza Soeseno (Alumni SPP Vol. 1)
Jangan mainan robot, kamu kan perempuan.
Jangan pake begituan, kamu kan perempuan.
Jangan ngelakuin yang berat-berat, kamu kan perempuan.
Jangan pergi jauh-jauh, kamu kan perempuan.
Jangan sekolah jauh-jauh, kamu kan perempuan.
Jangan sekolah tinggi-tinggi, kamu kan perempuan.
Jangan jadi ketua, kamu kan perempuan.
Jangan kerja, kamu kan perempuan.
Jangan ambis, kamu kan perempuan.
Jangan, jangan, jangan, jangan, dan jangan.
Pola pikirnya semacam ini tuh yang bikin munculnya ketidaksetaraan gender.
Perempuan boleh kok mainan robot. Perempuan boleh kok pake begituan. Perempuan bisa kok ngelakuin yang berat-berat, ngangkat galon tuh misalnya.
Perempuan boleh kok pergi kemana aja asal jelas tujuannya.
Perempuan bisa kok sekolah yang jauh.
Perempuan itu wajib berpendidikan (bukan sekolah formal, ya maksudnya), kan perempuan madrasah pertama anak-anaknya.
Perempuan bisa lo jadi ketua. Kalo berkompeten, kenapa enggak?
Perempuan juga punya impian. Mungkin kerja salah satu impian perempuan di luar sana? Perempuan juga butuh duit, btw.
Perempuan boleh kok ambis asal nggak berlebihan. Semua harus tetep ada porsinya, kan?
Nggak ada yang namanya “laki-laki itu superior dan perempuan itu inferior”. NGGAK ADA. Laki-laki dan perempuan itu derajatnya sama yang membedakan hanya kodratnya, organ dan pengalaman biologisnya.
Daripada menganggap perempuan lebih rendah daripada laki-laki, kenapa nggak kasih kesempatan dan kepercayaan yang sama ke perempuan-perempuan keren ini sih?






