Tahukah komoditas kopi di Lampung memasok industri kopi Nasional nomor 2? Sebuah potensi besar dimana sampai saat ini masyarakat Lampung tidak menjadi tuan rumah sendiri, tapi terus melayani perusahan dan dinikmati ke masyarakat dalam bentuk kopi sachet dengan minim kandungan kopi.
@payungi_ memiliki kegelisahan di atas, bahwa masyarakat Lampung harus mandiri mengelola kopinya dan menikmatinya dengan beragam pengetahuan. Ketika kopi menjadi destinasi, seni budaya, ekonomi kreatif, dan berkembang menjadi ekosistem pemberdayaan dari petani sampai penikmat kopi.
Ketika sebuah kota/kabupaten di Lampung tidak melihat potensi ini, komoditas kopi Lampung selamanya hanya akan menjadi pemasok kopi industri. Perlu adanya gerakan pengetahuan, sehingga kopi kabupaten daerah lain berkembang pesat tapi kopi Lampung kurang mendapat ruang karena minimnya pengetahuan yang membincangkannya.
Perguruan Tinggi juga minim kontribusi dalam berbagai sudut pandang apalagi ke gerakan pemberdayaan. Betapa banyak petani kopi mengeluh bahwa kopi di Lampung kurang menjadi primadona karena harga di tingkat tengkulak selalu dipermainkan. Sedangkan di tempat-tempat ngopi banyak sekali harga varian kopi 1 gelas setara dengan kopi 1 kg bahkan ada 4 kali lipatnya. Berarti ada ilmu yang tidak merata di tingkat petani kopi dari cara mananam, merawat, memanen, branding, menyedu dan menikmatinya di segelas cangkir.
Kampung Kopi @payungi_ hadir tidak hanya sebagai tempat ngopi, tapi ada pusat studi sebagai ruang diskusi berbincang soal kopi, ada gallery berbagai kopi, ada bermacam pedagang menjual varian kopi dari berbagai daerah di Lampung dan tentu integrasi kopi dengan sektor lain di Payungi.
Ketika pengetahuan menjadi gerakan, maka kopi bukan hanya menjadi komoditas ekonomi, tapi kopi memberi kesadaran bagi banyak orang untuk menjadi teman baik bagi buku, musik, film, ruang kreatif, dan lainnya. ()







